SELAMAT DATANG DI TORAJA___Partner Bisnis Anda Adalah SKM KAREBA

Selasa, 15 Maret 2011

Dua Lokasi Tambang di Toraja Utara Mulai Utara Produksi


DUA LOKASI tambang yang berada di wilayah kabupaten Toraja Utara sudah mulai diekploitasi atau produksi. Dua lokasi pertambangan itu, masing tambang Galena (Timah Hitam) di Lembang Sangkaropi, kecamatan Sa'dan dan Tambang Biji Besi di Talimbangan kecamatan Buntu Pepasan.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Toraja Utara, Simon Pongsisonda yang ditemui wartawan akhir pekan lalu, menyatakan sejak dua minggu terakhir, truk-truk sudah mengangkut material tanah dan batu dari lokasi pertambangan menuju ke pelabuhan Palopo. Material ini selanjutnya akan diekspor ke Cina untuk dikelolah menjadi barang jadi.

"Sudah dari awal Maret 2011 mereka sudah produksi dengan kapsitas produksi seribu sampai dua ribu ton material per minggu," jelas Simon.

Diuraikan, hingga saat ini material yang diangkut dari dua lokasi tambang di Toraja Utara masih menumpuk di pelabuhan Palopo. "Nanti kalau sudah sekitar lima puluh ribu ton baru dikapalkan ke Cina," katanya.

Lokasi tambang Sangkaropi memiliki ijin penggalian bahan mineral Galena (timah hitam), namun di dalam area itu terdapat banyak bahan mineral ikutan, seperti emas, tembaga, dan seng. Sedangkan di lokasi tambang Talimbangan, bahan galian utama adalah besi dengan mineral ikutan seperti emas, tembaga, timah hitam, seng, dan perak.

Kandungan mineral yang ada di dua lokasi ini cukup besar. Hanya saja, saat ini pemegang hak eksplorasi dan eksploitasi masih dihadang oleh aturan kehutanan yang sangat ketat. Menurut data, luas area pertambangan di luar kawasan hutan lindung yang saat ini dikelolah oleh PT Makale Toraja Mining sebesar 5 hektare. Sedangkan di dalam kawasan hutan masih tersisa 95,19 hektare. Kandungan mineral yang ada di Sangkaropi yang sudah dikelolah diperkirakan mencapai 310 ribu ton.

"Kalau yang di kawasan APL (areal penggunaan lain -red) waktu produksi maksimal lima tahun. Tapi kalau sampai ke dalam hutan bisa mencapai 20 tahun," jelas Simon Pongsisonda.

Sementara luas area yang dikelolah oleh PT Kutama Mining Indonesia di Talimbangan saat sebesar 200 hektare dan area yang belum dijamah di dalam hutan lindung sebesar 1.800 hektare, dengan perkiraan cadangan mineral 10.483.000 ton.

"Dengan kandungan mineral sebanyak ini, umur tambang diperkirakan bisa mencapai 20 tahun. Itu pun kalau tidak ada lagi lokasi lain yang kita temukan, kalau masih ada, berarti waktunya masih bisa lebih panjang," tambah Simon.

Menurut Simon, kedua perusahaan swasta yang mengelolah dua lokasi tambang itu sudah memiliki ijin dan semua persyaratan adminitrasi maupun lingkungan hidup, termasuk Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan UPL/UKL.

"Persyaratan ijin pertambangan sekarang sangat ketat. Tidak mungkin kita beri ijin kalau mereka belum melengkapi semua persyaratan, " jelasnya.

Satu Milyar Per Tahun

Ditanya soal royalti yang diperoleh pemerintah kabupaten Toraja Utara dari dua pertambangan itu, Simon mengatakan, pemerintah kabupaten Toraja Utara mendapat royalti 32 persen dari harga jual bahan tambang di pasar internasional. Dijelaskan, dari 100 persen royalti pertambangan, 20 persen diantaranya merupakan hak pemerintah pusat. Dari 80 persen sisanya, 16 persen merupakan bagian pemerintah provinsi, sedangkan 64 persen lagi dibagi dua antara kabupaten penghasil dan kabupaten tetangga. Dari prosentase ini, Distamben Toraja Utara menargetkan pendapatan sekitar Rp 1 milyar per tahun dari usaha pertambangan ini.

"Semua kabupaten di Sulsel juga akan mendapat bagi hasil pajak dari pertambangan di daerah ini. Kita juga mendapat pajak jenis itu dari usaha pertambangan dari daerah lain. Itu sudah aturan undang-undang," urai Simon.

Keuntungan lain yang diperoleh masyarakat Toraja Utara dari aktivitas pertambangan ini adalah penyerapan tenaga kerja dan community development atau pengembangan masyarakat di sekitar areal pertambangan.

"Misalnya kalau tidak ada sekolah akan dibangun sekolah, kalau sudah ada, ditingkatkan kualitas bangunan dan mutunya,demikian juga dengan fasilitas kesehatan, listrik, air minum, dan transportasi," ujarnya.

Saat ini, kata Simon, hampir semua tenaga kerja di dua area pertambangan itu merupakan tenaga kerja lokal dengan upah yang lebih tinggi dari upah minimum regional (UMR) Sulsel. Sedangkan beberapa tenaga ahli masih memakai tenaga kerja luar.

Kendala yang dihadapi saat ini, jelas Simon, yakni akses jalan tambang, yang akan dibangun dari daerah Sa'dan hingga ke Batusitanduk (Luwu) sepanjang kurang lebih 40 kilometer. Jalan ini sudah disurvey, namun karena terkendalan pembebasan lahan dan hutan lindung sehingga belum bisa dibangun hingga saat ini. Sementara ini aktivitas angkutan material tambang masih menggunakan jalan umum.

"Surveynya sudah dilakukan. Rencananya lebar jalan tambang itu sekitar 10 meter, tetapi karena melewati hutan lindung maka harus minta ijin dulu ke Menteri Kehutanan. Juga soal pembebasan lahan di sepanjang area yang akan dilalui jalan," kata Simon. (aka)

Kamis, 10 Maret 2011

Malam Ini Listrik di 10 Kecamatan di Torut Mati Total

PLN Minta Maaf

Rantepao --- Selama satu malam ini, terhitung sejak pukul 18.00 Wita, Kamis (10/3), hingga pukul 06.00 Wita, Jumat (11/3), wilayah Toraja Utara bagian utara, akan gelap gulita. Penyebabnya, pasokan listrik dari PLN Rantepao ke wilayah itu, putus total akibat kerusakan teknis di gardu penghubung Rantepao.

Wilayah yang terkena pemadaman mendadak itu, diantaranya kecamatan Sesean dan sekitarnya, Sa’dan dan sekitarnya, Pangala dan sekitarnya, serta wilayah Tikala dan Kapala Pitu.

Manajer PLN Ranting Rantepao, Johan Denmanora, yang dikonfirmasi pukul 19.00 Wita malam ini, membenarkan pemadaman mendadak listrik di 10 kecamatan di Toraja Utara. Hal itu, jelas Johan, terjadi karena kerusakan teknis tiba-tiba di gardu hubung Rantepao.

”Ada alat yang rusak karena sambaran petir di gardu hubung Rantepao sekitar jam empat soreh tadi. Kerusakan itu karena faktor alam, bukan kesengajaan,” jelas Johan.

Atas pemadaman mendadak itu, Johan menyatakan pihak PLN Ranting Rantepao meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada warga masyarakat yang terkena pemadaman. Dia berjanji, besok pagi listrik di wilayah itu sudah menyala kembali.

”Alat yang rusak itu sudah kami bawa ke Palopo, mudah-mudahan bisa selesai ini malam dan sudah bisa dipasang kembali besok pagi,” katanya. (AKA)

Partai Puncak LPI Tator Diwarnai Kericuhan


SPORTIVITAS dan fair play yang dijunjung tinggi dalam olahraga, ternoda lagi di lapangan sepak bola Ulusalu, kecamatan Saluputti, kemarin soreh. Partai puncak Liga Pendidikan Indonesia kabupaten Tana Toraja, yang mempertemukan kesebelasan SMAN 3 Makale versus SMKN 1 Makale, berakhir ricuh. Para siswa SMA dan SMK, yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa, terlibat saling dorong dan kejar-kejaran di lapangan.

Pantauan SKM KAREBA, kericuhan bermula saat wasit meniup pluit panjang tanda pertandingan berakhir. Pendukung dua kesebalasan langsung berhamburan ke lapangan. Entah siapa yang memulai, ratusan siswa itu kemudian terlibat adu mulut, saling dorong, dan kejar-kejaran di dalam lapangan. Untung saja aparat kepolisian dan panitia pelaksana bisa melerai sehingga kericuhan tidak meluas.

Sementara itu, hasil final LPI Tana Toraja tahun 2011, kesebelasan SMAN 3 Makale keluar sebagai juara setelah mengandaskan perlawanan kesebelasan SMKN 1 Makale dengan skor akhir 2-1. Sementara peringkat ketiga ditempati bersama oleh SMA Katolik Makale dan SMKN 1 Saluputti.

Atas keberhasilan itu, kesebelasan SMA Negeri 3 Makale berhak mewakili Kabupaten Tana Toraja di LPI tingkat Propinsi Sulsel yang akan berlangsung pada bulan Mei mendatang. (skm kareba)

Sabtu, 05 Maret 2011

Perut Bumi Toraja Kaya Mineral


Nama lengkapnya, Ir. JR Pasorong. Lahir di Makale 84 tahun yang lalu, tepatnya 6 November 1927. Pernah menjadi guru selama beberapa tahun, kakek dari 22 cucu dan 6 cicit ini kemudian banting setir ke dunia pertamba-ngan. Hal ini dipicu oleh sebuah pengalaman kecil ketika dia bersekolah di Schakel School (SS : sekolah Belanda setingkat SMP) di Makale. Saat itu, dia membaca buku Ilmu Bumi yang menyatakan salah satu tempat di dunia yang menyimpan banyak potensi bahan mineral Tembaga, terletak di Sasak, Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

“Sebelum tahun 1942 saat saya sekolah di SS, orang Belanda sudah memetakan bahwa di Sasak itu ada Tembaga,” ujar Pasorong mencoba mengingat masa-masa dimana dia mulai tertarik dengan dunia pertambangan.

Usai menamatkan pendidikan di MULO Makale tahun 1948, Pasorong mencoba peruntungan dengan menjadi guru sekolah dasar selama tiga tahun dengan tempat yang berpindah pindah di Makale, Minanga dan terkhir di Bau. Kemu-dian dia hijrah ke Jakarta dan menjadi guru pada Perguruan KRJS Jakarta. Dia menghabiskan waktu selama kurang lebih dua tahun di tempat itu. Namun pekerjaan itu kemudian ditinggalkan. Minatnya yang begitu tinggi terhadap dunia tambang utamanya mineral yang terkandung dalam perut bumi Toraja, membuat dia memutuskan untuk menjejakkan kakinya di Istitut Teknologi Bandung (ITB), jurusan Tambang Umum. “Rupanya panggilan saya memang bukan menjadi guru,” katanya.

Pasorong yang merupakan putra pertama Toraja alumni ITB dalam bidang pertambangan, bergabung dengan PT Aneka Tambang pada tahun 1962, segera setelah menyele-saikan pendidikannya. Menurut dia, awalnya PT Aneka Tambang bukan-lah pihak yang pertama kali menge-lolah tambang Nikel di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Yang pertama menemukan area tambang di Pomalaa itu adalah orang Toraja bernama Sampetoding, yang mengelolah tambang itu dibawah bendera PT Perto. Namun area tambang itu kemudian diambil alih oleh pemerintah melalui Badan Pertambangan Umum (BPTU).

“Saya adalah salah satu negosiator antara PT Antam dengan PT Perto. Karena tahu bahwa saya orang Toraja dan saya menjamin semua karyawan PT Perto, yang kebanyakan orang Toraja itu, kelak akan diipekerjakan di Aneka Tambang sehingga Pak Sampetoding akhirnya mengijinkan Aneka Tambang masuk ke Pomalaa,” urai Pasorong.

Pasorong pun mulai merintis kariernya di PT Aneka Tambang sejak tahun 1962 sampai tahun 1983. Namun selama 21 tahun kariernya di PT Aneka Tambang, dia tidak saja ditempatkan di Pomalaa, namun beberapa kali menjadi pionir mendirikan beberapa unit pertam-bangan di bawah bendera PT Aneka Tambang, seperti tambang emas Cikotok Bandung, tambang nikel di Soroako, dan tambang emas Logas di Riau. “Saya salah satunya yang ikut merintis dan membangun tambang tambang tersebut,” ujarnya.

Di sela-sela kesibukannya di Aneka Tambang, Pasorong tetap teringat kampung halamanya-Tana Toraja- dan mencuri waktu untuk meninjau dan mengeksplorasi beberapa jenis bahan tambang di Toraja. Dia sungguh meyakini bahwa cara ter-cepat untuk membangun kampung halamannya adalah melalui dunia tambang. Dia melakukan eksplorasi dengan berbekal peta pertambangan yang dibuat pemerintah Belanda. Peta itu, katanya, tidak utuh, hanya sebagian kecil saja yang berhasil dia selamatkan saat PT Aneka Tambang melakukan pembersihan gudang. Di dalam peta yang sepotong itu, dia menemukan daerah Sasak di Bittuang dan Sangkaropi di Sa’dan. Kedua daerah ini, katanya, memiliki kandungan Tembaga yang sangat banyak.

“Saya ambil itu peta kemudian saya pelajari dan melakukan penin-jauan awal ke Sasak dan Sangkaropi. Menurut tinjauan awal itu, kandu-ngan Tembaga yang ada di dua tempat ini cukup besar. Akhirnya saya cari pemodal untuk melakukan eksplo-rasi,” jelasnya.

Pada tahun 1970, di bawah ben-dera PT Logam Sulawesi, Pasorong memimpin eksplorasi di Sasak dan Sangkaropi. Dalam ekspolrasi awal itu, Pasorong sudah mengetahui bahwa di bawah perut bumi Sasak terdapat banyak emas dan tembaga. Namun mereka menghadapi kendala kelistrikan, karena waktu itu listrik di Toraja masih sangat terbatas, baru mencapai daerah perkotaan saja dengan daya yang sangat minim. Akhirnya, saat menghadap ke Menteri Pertambangan dan PLH, Pasorong bertemu dengan seorang putra Toraja lainnya bernama Halim, yang ahli di bidang kelis-trikan. Bersama Halim ini, Paso-rong menemu-kan potensi sumber daya air sungai Sa’dan untuk dijadikan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di dae-rah Pa’buaran/Makale Selatan (Malea-seka-rang).

“Menurut Halim, potensi air sungai Sa’dan sangat bagus untuk listrik. Menurut perhitungan Halim, bukan hanya kebutuhan kegiatan pertam-bangan saja yang bisa dilayani oleh PLTA di Malea, sampai seluruh Toraja pun bisa dilayani, bahkan sampai di beberapa daerah tetangga,” jelasnya.

Setelah mengetahui potensi sungai Sa’dan yang begitu besar, Pasorong bersama Halim, mengh-adap bupati Tana Toraja, yang saat itu dijabat oleh AYK Andi Lolo. Singkat cerita, mereka sepakat, Halim mengurus listrik, Pasorong mengu-rus proses eksplorasi, dan pemerin-tah mengurus ijin penambangan ke Menteri Pertambangan dan KLH. Namun proses perijinan rupanya tidak semudah yang dibayangkan, sehingga Tembaga dan mineral ikutan di Sasak maupun Sangkaropi masih terkatung katung hingga sekarang.

Potensi Tambang Toraja

Menurut Pasorong, sesuai hasil investigasi dan eksplorasi yang dilakukan tahun 1972, setidaknya terdapat beberapa titik lokasi di Toraja yang memiliki kandungan mineral, baik mineral logam maupun mineral industri. Selain Sasak dan Sangka-ropi, beberapa lokasi lain, seperti Balepe’ kecamatan Malimbong Balepe’, Uluwai kecamatan Mengken-dek, Bau kecamatan Bonggakara-deng, Riu – sebelah utara Sangkaropi, dan beberapa lokasi lainnya yang menyimpan banyak mineral.

Mineral non logam yang banyak terdapat di Toraja, diantaranya pasir kwarsa dan tanah liat. Pasir kwarsa bisa digunakan untuk pemisahan material tanah dari logam di pertam-bangan, juga bisa untuk bahan bangunan seperti batu-bata. Sedang-kan tanah liat bisa digunakan untuk membuat keramik dan tembikar.

Di Sasak misalnya, mineral yang paling banyak di tempat itu adalah emas, yang kadarnya paling tinggi, yakni 24 karat. Selain emas, juga ada mineral ikutan, seperti tembaga, perak, seng, timah hitam, dan biji besi. Jenis bahan tambang yang sama juga terdapat di Bau, Bonggaka-radeng. Menurut Pasorong, beberapa kali orang-orang kepercayaan PT Newtmon Sulawesi pernah menda-tangi dirinya untuk membicarakan masalah potensi emas yang ada di Sasak. Hanya saja, karena suatu sebab tertentu sehingga PT Newmont urung masuk ke Toraja.

“Pada hal potensi emas kita cukup banyak dan cukup untuk penamba-ngan kapasitas besar, ada juga sedikit batu bara,” tegas Pasorong.

Diungkapkan Pasorong, kandu-ngan mineral logam maupun non logam di Toraja cukup besar dan cukup untuk membuat daerah ini makmur. Hanya saja tempatnya terpisah-pisah dengan kapasitas yang berbeda-beda.

“Soal tempatnya yang tersebar sebenarnya bukan masalah. Kalau ada satu perusahaan induk yang buka tambang di Sasak atau Sangkaropi misalnya, dia bisa buka anak-anak perusahaan yang menambang di Balepe’, Bau, Uluwai, dan tempat lainnya,” jelasnya.

Yang menjadi persoalan, kata Pasorong, pemerintah harus pro aktif untuk membuka jaringan tambang ke mana-mana. Pemerintah juga harus memilik data-data pasti mengenai potensi tambang yang ada. Join partner dengan pihak swasta juga tidak ada salahnya. Kemudian, sarana dan pra sarana pendukung, seperti jalan, jembatan, listrik, dan bandar udara juga harus disiapkan.

“Tambang membuka banyak peluang ekonomi lain. Bukan saja meningkatkan taraf hidup dan jaminan sosial para pekerjanya, tetapi masyarakat di sekitarnya ikut menik-mati. Pemerintah juga,” ujarnya.

Yang menjadi persoalan utama pertambangan, kata Pasorong, biasanya berkaitan dengan ijin pertambangan. Yang berikut masalah lingkungan hidup. Namun ini semua bisa teratasi jika pemerintah memiliki kemauan untuk melakukannya termasuk membangun dialog yang komprensif dengan para pemerhati Lingkungan . “Tinggal ikuti saja prosedurnya, jaga lingkungan, rekonstruksi kembali lahan yang gersang, dan memberikan jaminan akan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, saya kira tidak ada masalah,” tambahnya.

Menurut Pasorong, yang kini hidup tenang menikmati masa tuanya di Tinoring, Mengkendek, sayang sekali kalau mineral yang terkandung dalam perut bumi Toraja tidak bisa dimanfaatkan demi kesejahteraan masyarakat. Orang Toraja, katanya, tidak perlu jauh-jauh pergi merantau ke Kalimantan atau Papua kalau ada tambang di Toraja. Ribuan tenaga kerja akan dibutuhkan, belum lagi akan mendorong tumbuhnya berbagai jenis industri pendukungnya yang juga membu-tuhkan tenaga kerja. “Kuncinya ada dikemauan kita semua, masyarakat, dunia swasta, intelektual, perantau, dan pemerintah untuk membawa daerah ini lebih baik. Saya siap mendukungnya,” pungkasnya. (aka)

Ir. J.R Pasorong

Lahir di Makale, 6 November 1927

Anak: 12 orang; Cucu: 22 orang; Cicit : 6 orang

Pendidikan:

Volksschoo tahun 1936; Schakel School tahun 1942; Kiyoim Yoseijo tahun 1943; MULO tahun 1948; AMS tahun 1951; Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1962

Riwayat Pekerjaan:

Guru SD di Makale tahun 1943 - 1946

Guru Perguruan KRJS Jakarta tahun 1952 – 1954

Karyawan PT Aneka Tambang mulai tahun 1962 – 1983

Pernah bekerja pada beberapa tambang, seperti:

- Tambang emas Cikoto Jawa Barat tahun 1962 – 1963

- Tambang Nikkel Pomalaa Sultra tahun 1963 – 1966

- Tambang Emas Logas Riau tahun 1966 – 1967

- Tambang Nikkel Soroako Sulsel tahun 1967 – 1969

- Tambang Tembaga Sasak Sangkaropi Sulsel tahun 1970 – 1982

Anggota Direksi Tambang Swasta Tana Toraja dan Jawa Barat

- Tambang Logam Sulawesi tahun 1970

- Tambang Emas PT Pisang Mas Jawa Barat tahun 1983

- Koperasi Tambang Rakyat Ampang Batu tahun 1984-1990

- Tambang Emas PT Sasak Teguh Semangat tahun 1991-1997

Teman dekat dan Kenalan atau Angkatan Kerja

- Prof. DR. J.A Katili, mantan Sekjen Direktorat SDM Deptamben RI

- Ir. Kosim Gandataruna, Dirjen Pertambangan Umum Deptambe RI

- Drs. Linus Simanjuntak, mantan Sekretaris Menteri Negara PPLH

- Robert H Carpenter, Consultan Geologist Colorado, USA

- Mr. Randa Sarungallo,mantan Advokat/pengacara Jakarta.

Kegiatan sosial :

Pendiri Kerukunan Keluarga Ma’palampang Batu-Jakarta

Jumat, 04 Maret 2011

DISKUSI PUBLIK: Topik: Layak atau tidak layak Toraja dijadikan lokasi transmigrasi??

Yuani Chayank Yang mana2 saja. . . . . ' yg pntg Tana Toraja aman n tentram. .

23 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Ari Pratomo Ndak!! Msh bxk lhan ksong d daerah laen? Ntar ad pnyusup lg?

23 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Deltha Palungkun kalo lahannya untuk masyarakat toraja sendiri setuju...

23 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Yusuf Exlesia Papayungan

koment awal kayaknya nehhhhh sama skali g layak bukan mau mengisolasi traja dari masyarakat luar etnis traja tp mari brpikir traja sebagai daerah pariwisata kedua d indonesia dtlah bali masuknya traja sebagai daerah traja karena busayanya dan h...arus d akui busayanya masih kental karena sebagian besar masyarakat asli yang masi trus mengembangkan warisan budaya leluhurnya jadi kalau ada trans (masyarakat lauar traja apakah masy asli akan tetap bisa bertahan dengan persaingan bud lain yang kemungkinan besar lambat laun akan menutup bud traja yang jadi alasan utama mjdikan traja daerah pariwsata karena budayanya) mungkin akan bertahan tapi sebagian akan mengalami degradasi kaena pengaruh bud luar.23 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Deltha Palungkun pemerintah daerah dibentuk dan dipilih oleh sebagian masyarakat toraja...tolong itu dibalas...sejahtrakan masyarakatnya dl...

23 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Arman David Wibisono

Setuju: bertolak ukur bali. Apakah dgn smakin banyaknya suku dan etnis serta bangsa lain di bali smakin membuat luntur budaya bali? Toraja saat ini sngat mmbutuhkan eksplorasi budaya dan wisata yg ada sehingga lebih dkenal didaerah bahkan n...egara luas. Untuk apa kita membuat kotak2 suku mnjadi perbedaan yg bisa mengkerdilkan pola pikir kita sebagai bangsa bersemboyan bhineka tunggal ika. Alangkah indahnya ketika masyarakat asli toraja serta para transmigran bergandengan tangan untuk bersama2 membangun toraja agar toraja dkenal dgn lebih baik sebagai icon wisata Indonesia....

23 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Diana Banneratte gw ga setuju klo Trj d jadikan lokasi transmigrasi krn lama kelamaan transmigran akan membludak dan so' jd penguasa byk tingkah

22 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Hendra Dionisius

Sebenarnya saya lebih suka kalau perdebatan tentang "masalah" transmigrasi di Toraja diawali dengan 2 pertanyaan besar::
1. Bagaimana perasaan anda ketika anda pergi merantau ternyata anda ditolak di daerah yang anda tuju.?
2. Bagaimana "waja...h" Toraja sekarang pasca pemekaran dan Pemilukada (bahkan sempat menjadi polemik besar karena adanya prokontra dalam masyarakat).?
Sadar ataupun tidak, kedua pertanyaan di atas merupakan dua pengalaman "luar biasa" yang pernah dialami oleh masyarakat Toraja, dan seharusnya kita bisa belajar dari situ. Satu hal lagi yang ingin saya sampaikan bahwa jangan hanya melihat "masalah" transmigrasi dari sisi budaya saja, pikirkan juga dampak ekonomi, sosial, dll. Setelah itu, silakan anda berdebat

22 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...

Rusdiyanto Torut se7,untuk pembangunan

22 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Deltha Palungkun perekonomian daerah sdh menjadi tugas pemerintah daerah...beri kesempatan dulu kepada masyarakat lokal untuk mengelola lahan tersebut...kita tetap harus memikirkan efek boomerang dimasa mendatang..apabila kesejahteraan masyarakat toraja sdh merata..baru buka lahan untuk masyarakat pendatang...hal ini pasti pernahh dilakukan oleh pemerintah daerah diwilayah2 pariwisata lainnya seperti bali...

22 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Verdy Fransio Transmigran dr mana dl, , kemudian luas lahan toraja cukup ga bt d jadikan daerah transmigrasi, , cocok gak, sementara masyarakat toraja sendiri bxk yg ga pux lahan, , kemudian yg pnting d pertimbangkan jgn sampe ada mksd2 tertentu d balik smua itu, mendatang etnik luar ke toraja, ,

17 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Yasinta Pasinggi Tidak setuju. Mengapa harus mndatangkan transmigran dr luar. Masih banyak masy. Toraja yg belum memiliki tanah yg cukup tuk bkebun. Bila akan ada program transmigrasi, kenapa tidak trans lokal saja? Pasti banyak yg berminat tuhh..

16 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Pither Ponda Katanya ini daerah Pariwisata,koq jadi daerah Transmigrasi. yang jadi perenungan kenapa harus di Toraja yang daerah subur dan tergarap.kenapa bukan daerah lain di Sul Sel yang kurang tergarap. perlu perenungan teologi. Tapi kalau transmigrasi lokal OKE.

16 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Tato Laki

Sangat tidak layak karena :
1.Lahan kosong Pertanian dan perkebunan di Toraja sudah tidak ada;
2.Ratio jumlah penduduk dan luas wilayah Toraja sudah masuk kategori Padat.
3.Oang Toraja sudah pandai bertani dan beternak tidak perlu diajari ol...eh para Transmigrasi.
4. Para Transmingrasi cenderung mendatangkan konflik dengan masyarakat lokal, karena wilayah pemukiman Trasmigrasi pasti berdekatan atau berdampingan dengan pekampungan masyarakat lokal.
5. Masyarakat Toraja tidak setuju Program Transmigrasi di jadikan lahan Korupsi.Lihat Selengkapnya

15 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Felix Salu SANGAT-SANGAT TIDAK LAYAK. Ingat Suku Toraja di Sulawesi hanya menduduki 1 kabupaten di SUL-SEL (2 stlh pemekaran) Sudah Sangat Padat Penduduknya jika dibadingkan dengan luas wialayah Toraja. Mestinya orang Toraja yang harusnya diusahakan diikutkan dalam program Transmigrasi ke daerah lain oleh Pemda setempat bukan mendatangkan TRANSMIGRASI. Konyol amat kebijakan PEMDA .

15 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Aris Sampe Mungkin bisa untuk transmigrasi lokal, dengan tujuan utama pengembangan/pemberdayaan masyarakat, dan menciptakan lapangan pekerjaan yang baru serta memudahkan pembangunan sarana dan prasarana.

15 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Obeth Sampe

sebaiknya kita kembali lagi ke arti kata transmigrasi (perpindahan penduduk dari daerah yg berpenduduk padat ke daerah yg berpenduduk jarang/kurang) dengan maksud agar di tempat yg baru transmigran bisa mengelolah lahan kosong (milik pemeri...ntah) yg belum digarap masyarakat setempat..nah pertanyaannya sekarang lahan mana yg belum digarap masyarakat Toraja? yang ada saja masih kurang..!
bisa-bisa menambah masaalah baru nantinya di Tana Toraja dan Toraja Utara.....,,,Lihat Selengkapnya

14 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Wanto Mangoting

Trans dari mana dl ? Kalo trans lokal kenapa tdk..? Klo trans dr luar TORAJA, SANGAT TIDAK SETUJU. Karna
1.Mengingat luas TORAJA dibnding jmlh penddkx gimana.
2.Dng adax transmikrasi bisa brpengaru negatif bg budaya Toraja.
3.Klo mo bkin prog...ram transmikrasi, mendingan buat inf sj di internet supaya kita aja yg ada d perantauan pulang jd tranx. Lihat Selengkapnya

13 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Felix Salu ‎@all. Menurut saya Bupati yang setuju dengan Transmigrasi pasti sudah agenda dengan tersembunyi dengan Penguasa Negeri ini sebelum mencalonkan diri jadi Bupati.Belajarlah pada kejadian Poso beberapa waktu tahun yang lalu.Apa mau Toraja dijadikan seperti itu?

13 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Mathius Yhk Peruntukan lahan di Tana Toraja sebenarnya sudah diatur dalam Tata Ruang Kota dan Wilayah, apa sudah ada sosialisasi/konsultasi publik tentang hal itu? apa ada lahan untuk transmigrasi? karena menurut saya tanah di toraja itu pada umumnya adalah tanah adat, kalau pemerintah mau silahkan saja, tp menurut saya tidak perlu.

12 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Mathius Yhk Kalau pemerintah merelokasi masyarakat toraja yang berada di daerah rawan bencana (tanah longsor) itu baru good planning.

12 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Yuliana Pirade janganlah menjadikan tanah leluhur kita sebagai lahan trnsmigrasi,,coba kita semua membayangkan betapa indahx pemandangan di Toraja,,hamparan tanah yg hijau,,gunung yg indah,,biarkankanlah semua itu dinikmati oleh anak cucu kita kelak,,dan yg perlu kitaingat daerah2 yg dijadikan lahan transmigrasi selalu terjadi kerusuhan....

12 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Antonius Lamba tae' di tandai apa lan otak na pemerintah sehingga untarima transmigran......???
hati-hati aja...

11 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Antonius Lamba kita aja tdk ada tempat......napa harus terima transmigran..

11 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Lony NuRa Cavevarilo sangat tdk layak krn mengingat toraja adalah salah satu icon pariwisata no 1 di sulawesi selatan,,coba bayangkan jika daerah pariwisata kebannggan org toraja mnjadi lokasi transmigrasi lalu org2 asli toraja mw di kemanakan,,,pikirkan nasib org toraja krn pendudukx jg sdh sangat padat.ingat toraja adalah daerah pariwisata bkn daerah transmigrasi

9 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...

Harninda Batti gk layak,,,,
1.mengngingat baxakx saudra2 kita di perntauaan,budalui
2.tyus akan mempengaruhi budaya kita,,,,
xa jd di hrapkan na paktangngaran melomelo dolo,,,apa dampakx nanti,,8-)
7 jam yang lalu · Suka

Pola Hidup Orang Toraja Mulai Konsumtif

DR. Drs. Edie Rantetasak, MM

Usai menyabet gelar Doktor Ilmu Ekonomi dari Universitas Brawijaya Malang, 16 Februari lalu, Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kabupaten Paniai Papua ini, menyampaikan pandangannya soal kondisi ekono-mi Toraja, yang menurutnya tidak jauh berbeda dengan hasil riset disertasi doktornya. Berikut petikannya:

“Saya melihat kondisi di Paniai hampir sama dengan Toraja sekarang ini. Dulu masyarakat Paniai adalah masyarakat yang ulet, mereka bergantung pada alam. Tapi sekarang karena terlena oleh bantuan pemerintah, mereka menjadi masyarakat yang tingkat ketergantuangannya sangat tinggi,” katanya memulai perbin-cangan dengan KAReBA.

Dari hasil riset untuk disertasi itu, Edie, yang juga berprofesi sebagai hamba Tuhan (pendeta) ini, berpen-dapat kondisi masyarakat Paniai mirip dengan masyarakat Toraja yang ada di Toraja saat ini. Beda-nya, kata dia, masyarakat Paniai terlalu bergantung kepada bantuan pemerintah, sedangkan masyarakat Toraja bergantung kepada keluarga-nya yang merantau.

“Pola orang Toraja mulai bergeser, dari pola hidup produktif kepada pola konsumtif,” katanya.

Menurut Edie, kondisi saat ini sangat jauh berbeda dengan kondisi 10-15 tahun yang lalu dimana masyarakat Toraja sangat ulet, rajin, dan kreatif mencari sumber-sumber penghasilan. Pola hidup konsumtif ini, lanjutnya, seolah-olah didukung oleh para perantau, yang memang pada hakekatnya mereka pergi merantau untuk menyenangkan dan memba-hagiakan orang tua dan keluarga.

“Pola hidup ini kelihatan direspon juga oleh perantau karena cita-cita mereka untuk menyenang-kan orang tua atau keluarga. Dan ini disambut mentah-mentah oleh keluarga di kampung, sehingga menimbulkan ketergantungan yang tinggi,” urainya.

Kondisi ini, kata Edie, membuat orang menjadi malas bertani, beternak, dan minim kreativitas. “Karena kalau mau beras atau beli ternak untuk upacara adat, tinggal minta, uang datang. Pola hidup ini, kalau dibiarkan terus menerus berlangsung bisa berbahaya bagi Toraja,” katanya.

Edie juga menyinggung soal pola hidup generasi muda yang juga minim kreativitas. Kesan cari gampang amat kental dalam kehidupan mereka. Hanya mau mencari uang dengan cara yang gampang, tidak mau bekerja keras.

“Ini juga pengaruh dari persaingan “pesta” adat yang tak terkendali. Anak-anak muda cukup sorong babi ke halaman sudah dapat uang, dapat rokok, dapat daging lagi. Ini tidak bagus untuk mental generasi muda kita,” tegas Ketua Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Kabupaten Paniai ini.

Edie mengatakan kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlama-lama, sebab bisa berbahaya bagi stabili-tas ekonomi dan produktivitas orang Toraja. Untuk itu, pemerin-tah, terutama pemerintahan baru di dua kabupaten ini harus memikirkan langkah-langkah atisipatif dan pemberdayaan masyarakat. Para perantau, terutama para pemerhati ekonomi Toraja juga harus ikut memberi kontribusi terhadap perubahan pola pikir dan pola hidup masyarakat ini. (r01/krb)

Jumat, 25 Februari 2011

Jadi Wartawan Itu Gampang

Berita dan Feature

Oleh Susandi

Berita

Para jurnalis yang sudah lama berkecimpung di dunia jurnalistik tahu bahwa kadangkala dalam sebuah peristiwa tidak hanya berupa satu buah kejadian saja. Bisa jadi dalam sebuah peristiwa terdiri dari banyak fragmen-fragmen kejadian yang layak diberitakan. Di dalam teknik penulisan berita langsung (straight news), jurnalis akan merangkum semua fakta-fakta itu ke dalam sebuah berita lempang dan singkat. Ini biasanya terjadi pada media-media yang menuntut aktualitas yang tinggi seperti koran, radio, TV dan internet.

Namun media yang tidak begitu diikat oleh waktu seperti tabloid mingguan atau majalah bulanan, jika mereka ikut-ikutan menulis seperti ini, tentu medianya tidak akan laku karena sudah basi. Karena itulah mereka harus menggali berita dari sudut pandang yang unik dengan tema yang awet alias tak lekang oleh waktu.

Sebagai contoh, dalam sebuah bencana di kota Y, terjadi kejadian sebagai berikut:

1. Sambaran petir dan angin badai meruntuhkan atap gedung berlantai lima

2. Runtuhan atap itu menimpa mobil yang sedang melintas

3. Pengemudinya, seorang remaja putri, menginggal dunia

4. Dua penumpang terluka

Aturan dasar dalam menulis berita lempang adalah menempatkan hal-hal yang paling penting di awal berita. Aturan ini tidak menjadi masalah sepanjang kisah ini hanya mempunyai satu peristiwa yang ditekankan. Namun ketika ada banyak peristiwa yang penting juga untuk diberitakan, maka tugas jurnalis menjadi semakin rumit. Untuk mengatasi hal ini, ada dua pilihan yang bisa dilakukan:

1. Merangkum semua fakta –dengan urutan penting ke tidak penting pada paragraf pertama, atau

2. Memberi tekanan pada peristiwa tertentu yang paling penting di awal paragraf.

Jika peristiwa di atas ditulis dalam sebuah berita lempang, hasilnya sebagai berikut:

“Atap sebuah gedung berlantai lima, runtuh setelah tersambar petir dan tersapu angin badai tadi malam. Runtuhan atap itu menimpa mobil yang sedang melintas, sehingga menewaskan Anastasia Suminem (18 tahun) yang mengemudi mobil itu. Sedangkan dua penumpang lainnya menderita luka-luka serius.”

Berita seperti ini biasanya dimuat di koran harian. Namun ketika redaktur tabloid wanita akan mengangkat peristiwa ini, ia harus mencari sudut pandang lain. Ia memberi tugas reporternya untuk mengangkat kisah korban yang meninggal. Inilah hasilnya:

“Seorang remaja putri meninggal dunia (Jumat, 18/4) ketika mobil yang dikendarainya tertimpa atap gedung berlantai lima yang runtuh setelah tersambar petir. Selain itu, dua penumpang yang duduk di belakang menderita luka-luka serius. Saat itu mobil mereka sedang terjebak di kemacetan lalu lintas.

Anastasia Suminem (18 tahun) adalah seorang sekretaris PT. Sukar Maju. Ia sedang melintas jl. Sudirman ketika puluhan kubik bata, kayu, besi dan genting itu menghempas mobilnya. Timbunan material itu meringsekkan badan mobil bagian depan sehingga menewaskan Anastasia seketika itu juga.

Anastasia adalah seorang karyawati yang menuru penuturan Kristina, rekan kerjanya adalah karyawan periang yang tidak sungkan-sungkan memberi bantuan pada orang lain. Sifat suka menolongnya ini tercermin ketika ia menawarkan untuk mengantarkan pulang Yosafat Tukiyo (23 th) dan Maria Magdalena Pariyem (20 th). Padahal arah rumah Anastasia berlawanan dengan kedua rekannya ini.. …. “ kisah selanjutnya menceritakan tentang Anastasia.

Sementara itu, editor majalah bulanan memandangnya dari sisi lain. Ia tertarik pada petir yang menyambar pada saat jam-jam sibuk. Pada saat itu, jalanan macet karena banyak orang pulang kantor pada waktu yang bersamaan. Untuk itu, ia menugaskan anak buahnya untuk mewawancarai pakar Cuaca dan mencari informasi seputar perilaku petir.

Nah, begitulah. Untuk peristiwa yang sama, kita bisa menuliskan dalam dua atau lebih berita yang berbeda. Inilah yang disebut pemilihan sudut berita atau news angle. Pemilihan news angle sebuah media ini biasanya dipengaruhi oleh kebijaksanaan redaksional dan karakteristik pembacanya. Masih ingat kecelakaan tragis Lady Di? Untuk peristiwa yang sama, sebuah tabloid gosip mengangkat sisi perselingkuhan, majalah bulanan mengupas ulah para Paparazi ,sedangkan majalah berita berusaha menelusuri penyebab kecelakaan. Berbeda-beda ‘kan?

Ketika sebuah media sudah mendapat point of interest dari sebuah kisah, mereka akan memusatkan perhatian pada satu hal itu saja. Mereka mengumpulkan dan menggali fakta di balik berita lempang untuk disusun menjadi sebuah berita kisah atau news feature. Karena relatif tidak terikat oleh waktu, penulis berita kisah punya kesempatan untuk menyusun kalimat yang menghidupkan imajinasi pembaca. Tulisan ini menarik perhatian pembaca hingg masuk ke dalam cerita itu dengan membantu mengidentifikasi diri dalam tokoh utama. Feature dapat menyentuh emosi pembaca sehingga mereka penasaran, skpetis, kagum, heran, tertawa, menangis, dongkol, senang dsb.

Menurut Wiliamson, “Feature adalah tulisan kreatif yang terutama dirancang untuk memberi informasi sambil menghibur tentang suatu kejadian situasi atau aspek kehidupan seseorang”. Masih kata Wiliamson, feature menekankan unsur kreativitas (dalam penciptaan), informatif (isinya) dan menghibur (gaya penulisannya) dan boleh subyektif (penuturannya). Ketiga syarat utama ini mutlak ada dalam feature, sedangkan unsur subyektifitas tidak mutlak. Kalau ada juga boleh, terutama untuk feature sisi manuniawi (human interest).

Tips Menulis Berita

Berikut ini adalah tips dalam menulis berita:

1. Tulislah berita yang menarik dengan menerapkan gaya bahasa percakapan sederhana . Tulislah berita dengan lead yang bicara. Untuk menguji lead anda “berbicara” atau “bisu” cobalah dengan membaca tulisan yang dihasilkan. Jika anda kehabisan nafas dan tersengal-sengal ketika membaca maka led anda terlalu panjang.

2. Gunakan kata/Kalimat Sederhana. Kalimat sederhana terdiri dari satu pokok dan satu sebutan. Hindari menulis dengan kata keterangan dan anak kalimat. Ganti kata-kata yang sulit atau asing dengan kata-kata yang mudah. Bila perlu ubah susunan kalimat atau alinea agar didapat tulisan yang “mengalir”. Ingat KISS (Keep It Simple and Short)

3. Hindari kata-kata berkabut. Kata-kata berkabut adalah tulisan yang berbunga-bunga, menggunakan istilah teknis, ungkapan asing yang tidak perlu dan ungkapan umum yang kabur. Yang diperlukan BI ragam jurnalistik adalah kejernihan tulisan (clarity).

4. Libatkan pembaca. Melibatkan pembaca berarti menulis berita yang sesuai dengan kepentingan, rasa ingin tahu, kesulitan, cita-cita, mimpi dan angan-angan. Tapi ingat: jangan sampai terjebak menulis dengan gaya menggurui atau menganggap enteng pembaca. Melibatkan pembaca berarti mengubah soal-soal yang sulit menjadi tulisan yang mudah dimengerti pembaca. Melibatkan pembaca juga didapat dengan menulis sesuai rasa keadilan yang hidup di masyarakat.

5. Gantilah kata sifat dengan kata kerja.

Baca kalimat ini: “Seorang perempuan tua yang kelelahan bekerja di sawahnya!”

Bandingkan dengan: “Seorang perempuan tua membajak, kepalanya merunduk, nafas-Nya tersengal-sengal!”

6. Gunakan kosakata yang tidak memihak

Baca kalimat ini: Seorang ayah memperkosa anak gadisnya sendiri yang masih Berusia 12 tahun

Bandingkan dengan: Perkosaan menimpa anak gadis yang berusia 12 tahun.

7. Hindari pemakaian eufemisme bahasa.

Baca kalimat: Selama musim kemarau terjadi rawan pangan di Gunung Kidul

Bandingkan dengan: Selama musim kemarau terjadi kelaparan di Gunung Kidul

Untuk membuat posting-an berita/artikel diharapkan kita sebagai warga masyarakat yang bermoral baik dan bertanggung jawab, mampu memberikan informasi yang akurat dan dapat dipercaya. Untuk berita/artikel yang diambil dari sumber lain, mohon disertakan sumber berita/artikel tersebut. Jangan lupa untuk memberikan informasi sedetil mungkin agar informasi anda bermanfaat bagi kita semua. Beberapa tips untuk membuat berita:

1. Apa yang terjadi?

2. Kapan terjadinya?

3. Siapa saja yang terlibat?

4. Sebab musabab terjadinya?

5. Bagaimana kisah terjadinya?

Jenis-jenis Lead

Hubungan antara lead dan sudut berita begitu memaksa reporter untuk memikirkan lead sejak masih di lapangan. Bahkan, penentuan lead di lapangan sangat membantu mengarahkan pengumpulan bahan. Di bagian ini akan kita coba uraikan 16 buah lead disertai contoh yang membantu.

1. Lead PASAK (Peg)

Apakah yang menjadi gara-gara atau pelatuk peristiwanya? Misalnya, ada berita seorang Ibu yang putus asa karena ditinggal suami kawin lagi. Nah, pelaku peristiwa inilah yang akan menjadi lead. Putus asa karena ditinggal suami yang kawin lagi, seorang Ibu tega menggantung tiga anaknya kemarin siang di Cipanas. Ketiga korban berumur 4, 6, dan 8 tahun itu masih berpakaian seragam sekolah lengkap.

2. Lead KONTRAS

Ada berita terpilihnya TD Pardede sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha Tekstil Indonesia di sebuah hotel mewah di Jakarta. Padahal, TD Pardede sedang berada di Medan. Selama ini TD Pardede dikenal orang sederhana, tidak kaya, namun ia terpilih sebagai ketua lembaga yang prestise. Di Medan, di kantor yang modern ber-AC, di balik meja tua yang sudutnya bekas terbakar, TD Pardede menerima pemilihannya sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha Tekstil Indonesia. Berita itu disampaikan dengan telepon tadi malam dari Jakarta, tempat pemilihan itu berlangsung.

3. Lead PERTANYAAN

Ada berita tentang pemberantasan minuman keras di beberapa kota. Berapa ratus Baileys-kah untuk memulihkan sebuah kebahagiaan? Bismoko (45) bukan nama sebenarnya, salah seorang peminum berat yang kepergok kemarin di salah satu bar Jakarta, menjawab dua botol sekali minum, dua kali sehari, 25 hari sebulan. Ia seorang pengusaha (rekanan pemerintah) yang sukses, tetapi seorang suami yang malang, menurut pengakuannya.

4. Lead DESKRIPTIF

Ada berita tentang gempa bumi yang terjadi di Jakarta. Peristiwa itu terjadi akibat adanya pergeseran lapis bumi di Pantai Pelabuhan Ratu. Gedung […] masih mencakar langit sampai jam 14.35 kemarin, ketika tiba-tiba puncaknya gemetar, hanya satu menit, lalu retak kecil membelah dari atas sampai ke bawah. Tidak seorang pun penghuninya sempat berteriak, tahu-tahu gedung itu sudah berubah jadi puing berlepotan darah, korban gempa berkekuatan gempa pada skala Richter

5. Lead STAKATO

Ada berita tentang perebutan Piala Tommy dalam lomba balap mobil. Ada lima finalis yang dijagokan dalam ajang bergengsi itu. Wus, wus, wus! Lima mobil balap serentak meraung. Kuning-merah-hijau-putih-hitam. Hayo, hayo, hayo! Penonton serentak berteriak dan berjingkrak. Laki-perempuan-tua-muda. Urutan warna tidak berubah. Finish! Mobil kuning sudah pasti menang setelah tikungan maut itu, kemarin sore di sirkuit Sentul.

6. Lead LEDAKAN

Seorang lelaki keriput bagai buah markisa tua tertatih-tatih di tengah peserta seminar parapsikologi kemarin di Jakarta. Tiba-tiba sidang gempar. Lelaki itu menghamburkan serbuk merica ke seluruh ruangan, menyebabkan orang ramai bersin. Dengan itulah seminar resmi dibuka.

7. Lead FIGURATIF

Bagai siang memeluk malam, begitulah perkawinan Firman (27) dan Fiona (54) kemarin sore di Cibubur. Beda usia yang besar tampak tidak mampu membedakan, malah menyamakan keduanya.

8. Lead EPIGRAM (Ungkapan khas)

Sudah diberi hati minta jantung pula. Seorang suami diancam cerai oleh istrinya di PN Jakarta Pusat kemarin pagi. Suami itu dituduh memperkosa anak tirinya, anak si istri dari perkawinan terdahulu, sementara istri membanting tulang dengan berjualan di pasar. Si suami menolak tuduhan. Katanya malah dirinya yang dipaksa oleh anak tirinya.

9. Lead LITERER

Kisah Si Kabayan terulang di Ciputat kemarin sore. Seorang lelaki muda dituduh oleh penduduk mencuri sapi. Lelaki itu membantah. Alasannya, dia hanya memungut tali jerami yang melintang di jalan. Bukan salahnya, kata lelaki itu, jika di ujung tali tersebut terikat seekor sapi.

10. Lead PARODI

Gara-gara terlalu bersemangat mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatan olahraga, rumah pun disatroni maling. Itulah yang menimpa keluarga X ketika seisi rumahnya, termasuk pembantu, meninggalkan rumah untuk lari di Monas Minggu pagi.

11. Lead KUTIPAN

“Akan saya gebuk,” kata Presiden Soeharto kemarin di Boyolali, mereka yang mencoba mengganti presiden dengan cara-cara yang tidak konstitusional.

12. Lead DIALOG/PERCAKAPAN

“Betulkah Saudara mencuri sapi?”

“Tidak Pak Hakim. Saya hanya menarik tali. Eh, tahu-tahu ada anak sapi di ujungnya.” Begitulah dialog hakim dan tersangka kemarin siang di PN Jakarta Selatan.

13. Lead KUMULATIF

Lead kumulatif menyajikan peristiwa secara berurut, membawa pembaca sampai pada antiklimaks peristiwa. Polisi menerima laporan seorang gadis di Menteng, Jakarta Pusat kemarin sore. Konon di rumahnya ada cairan nitrogliserin, bahan pokok pembuat bom. Sepasukan polisi segera datang menggeledah kulkas, tempat cairan itu. Si gadis mengatakan, ia panik saat menerima botol itu dari temannya dan disuruh untuk melemparkannya pada siapa pun yang berani mengganggu. Ketika polisi menemukan dan memeriksanya, benda itu ternyata cuma lem.

14. Lead SUSPENSI (sama persis dengan lead no 13)

15. Lead URUTAN (idem ditto)

16. Lead SAPAAN

Anakku, bagaimana kabarmu di sekolah? Apakah kamu senang belajar bersama teman-temanmu? Ah, tentu kamu senang belajar membaca, menulis, bermain di taman, dan sebagainya. Kisah berikut ini ternyata cuma mimpi bagi Syafitri Mutia, putri kedua Menteri Komunikasi dan Informasi Dr Sofyan A Djalil.

Langkah-langkah Menulis Berita

Setelah menentukan LEAD, kita perlu menginterventarisasi jenis-jenis keterangan yang telah dikumpulkan di lapangan, yaitu JALAN CERITA dari PERISTIWA yang hendak Anda laporkan. Hasil investarisasi inilah yang perlu dibongkar pasang sampai terasa pas dengan JALAN CERITA yang ditemukan. Itulah pula yang jadi sub judul dari berita. Setelah merumuskan LEAD, mulailah kita menata BADAN BERITA. Satu hal yang perlu diingat ialah tempatkanlah hasil inventarisasi yang kurang penting di bagian belakang berita. Semakin kurang penting unsur inventarisasi, semakin ke belakang tempatnya dalam berita. Inilah yang disebut dikenal dengan cara PIRAMIDA TERBALIK.

Singkatnya, ada resep yang bisa Anda tuliskan sebagai berikut:

· Tulislah lead yang “bicara”, yang “bercakap”. Tulislah berita seperti layaknya Anda mengisahkannya secara lisan,

· Tulislah lead pendek, paling banter 30 kata, atau tiga baris ketikan,

· Bila pikiran mulai agak kacau ketika menulis, pilah-pilah lead Anda yang rumit itu dalam dua/tiga kalimat,

· Sebisa mungkin gunakanlah kalimat pernyataan yang sederhana. Usahakan tak lebih dari 20 kata.

· Gunakan kata-kata sederhana, bukan yang berkabut.

· Hindarkan kata-kata teknis, atau istilah asing yang kurang perlu,

· Usahakan kata-kata konkret, “Jangan katakan, tapi tunjukkan”,

· Sebanyak mungkin pakai kata kerja yang aktif, yang menggembarkan tindakan, gerak. Sebisa mungkin hindari kata-kata sifat.

· Berkisahlah untuk pembaca, dan

· Berkisahlah seperti melukis.

Feature

Feature adalah artikel yang kreatif, kadang kadang subyektif, yang terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi in-formasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan. Feature memungkinkan reporter ‘’menciptakan’’ sebuah cerita. Meskipun masih diikat etika bahwa tulisan harus akurat karangan fiktif dan khayalan tidak boleh, reporter bisa mencari feature dalam pikirannya, setelah mengadakan penelitian terhadap gagasannya itu, ia menulis.

Secara kasar karya jurnalistik bisa dibagi menjadi tiga, pertama stright/spot News berisi materi penting yang harus segera dilaporkan kepada publik (sering pula disebut breaking news) Kedua, news feature, memanfaatkan materi penting pada spot news, umumnya dengan memberikan unsur human/manusiawi di balik peristiwa yang hangat terjadi atau dengan memberikan latarbelakang (konteks dan perspektif) melalui interpretasi.Dan ketiga, feature bertu-juan untuk menghibur melalui penggunaan materi yang menarik tapi tidak selalu penting.

Dalam persaingan media yang kian ketat tak hanya antar media cetak tapi juga antara media cetak dengan televisi, straight/spot news seringkali tak terlalu me-mu-askan. Spot news cenderung hanya berumur sehari untuk kemudian dibuang, atau bahkan beberapa jam di te-levisi. Spot news juga cenderung menekankan seka-dar unsur elementer dalam berita, namun melupakan back-ground. Kita memerlukan news feature, perkawinan an-tara spot news dan feature. Karena tradisi ini relatif baru, kita perlu terlebih dulu memahami apa unsur-unsur dan aspek mendasar dari feature.

1. a. Subyektifitas

Beberapa feature ditulis dalam bentuk ‘’aku’’, sehingga memungkinkan reporter memasukkan emosi dan piki-rannya sendiri. Meskipun banyak reporter, yang dididik dalam reporting obyektif, hanya memakai teknik ini bila tidak ada pilihan lain, hasilnya enak dibaca. Tapi, reporter-reporter muda harus awas terhadap cara seperti itu. Kesalahan umum pada reporter baru adalah kecenderungan untuk menonjolkan diri sendiri lewat pe-nulisan dengan gaya ‘’aku’’. Kebanyakan wartawan ka-wakan memakai pedoman ini: ‘’Kalau Anda bukan tokoh utama, jangan sebut-sebut Anda dalam tulisan Anda.’’

1. b. Informatif

Feature, yang kurang nilai beritanya, bisa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai situasi atau aspek kehidupan yang mungkin diabaikan dalam penu-lisan berita biasa di koran. Misalnya tentang sebuah Mu-seum atau Kebun Binatang yang terancam tutup. Aspek informatif mengenai penulisan feature bisa juga dalam bentuk-bentuk lain. Ada banyak feature yang enteng-enteng saja, tapi bila berada di tangan penulis yang baik, feature bisa menjadi alat yang ampuh. Feature bisa menggelitik hati sanubari manusia untuk menciptakan perubahan konstruktif.

1. c. Menghibur

Dalam 20 tahun terakhir ini, feature menjadi alat penting bagi surat-kabar untuk bersaing dengan media elektronika. Reporter suratkabar mengakui bahwa me-reka tidak akan bias ‘’mengalahkan’’ wartawan radio dan televisi untuk lebih dulu sampai ke masyarakat. War-tawan radio dan TV bias mengudarakan cerita besar hanya dalam beberapa menit setelah mereka tahu. Se-mentara itu wartawan koran sadar, bahwa baru beberapa jam setelah kejadian, pembacanya baru bisa tahu sesuatu kejadian setelah koran diantar.

Wartawan harian, apalagi majalah, bisa mengalahkan radio dan TV, dengan cerita eksklusif. Tapi ia juga bisa membuat versi yang lebih mendalam (in depth) menge-nai cerita yang didengar pembacanya dari radio. Dengan patokan seperti ini dalam benaknya, reporter selalu mencari feature, terhadap berita-berita yang paling hangat. Cerita feature biasanya eksklusif, sehingga tidak ada kemungkinan dikalahkan oleh radio dan TV atau koran lain.

Feature memberikan variasi terhadap berita-berita ru-tin seperti pembunuhan, skandal, bencana dan perten-tangan yang selalu menghiasi kolom-kolom berita, feature bias membuat pembaca tertawa tertahan.

Seorang reporter bisa menulis ‘’cerita berwarna-warni’’ untuk menangkap perasaan dan suasana dari sebuah peristiwa. Dalam setiap kasus, sasaran utama adalah bagaimana menghibur pembaca dan memberikan kepadanya hal-hal yang baru dan segar.

1. d. Awet

Menurut seorang wartawan kawakan, koran kemarin hanya baik untuk bungkus kacang. Unsur berita yang se-muanya penting luluh dalam waktu 24 jam. Berita mudah sekali ‘’punah’’, tapi feature bisa disimpan berhari, ber-minggu, atau berulan bulan. Koran-koran kecil sering membuat simpanan ‘’naskah berlebih’’ kebanyakan feature. Feature ini diset dan disimpan di ruang tata mu-ka, karena editor tahu bahwa nilai cerita itu tidak akan musnah dimakan waktu. Dalam kacamata reporter, feature seperti itu mem-punyai keuntungan lain. Tekanan deadline jarang, sehi-ngga ia bisa punya waktu cukup untuk mengadakan riset secara cermat dan menulisnya kembali sampai mem-punyai mutu yang tertinggi.

Sebuah feature yang mendalam memerlukan waktu cu-kup. Profil seorang kepala polisi mungkin baru bisa dipe-roleh setelah wawan-cara dengan kawan-kawan seker-janya, keluarga, musuh-musuhnya dan kepala polisi itu sendiri. Diperlukan waktu juga untuk mengamati tabiat, reaksi terhadap keadaan tertentu perwira itu.

Singkat kata, berbeda dengan berita, tulisan feature memberikan penekanan yang lebih besar pada fakta-fakta yang penting, fakta-fakta yang mungkin merang-sang emosi (menghibur, memunculkan empati, disampil tetap tidak meninggalkan unsure informatifnya). Karena penakanan itu, tulisan feature sering disebut kisah hu-man interest atau kisah yang berwarna (colourful).

Teknik penulisan feature

Jika dalam penulisan berita yang diutamakan ialah pe-ngaturan fakta-fakta, maka dalam penulisan feature kita dapat memakai teknik ‘’mengisahkan sebuah cerita’’. Memang itulah kunci perbedaan anta-ra berita ‘’keras’’ (spot news) dan feature. Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah. Penulis melukis gambar dengan kata-kata: ia meng-hidupkan imajinasi pembaca; ia menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita itu dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama.

Penulis feature untuk sebagian besar tetap menggu-nakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi kelinca-hannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu. ‘’Piramida terbalik’’ (susunan tulisan yang meletakkan informasi-informasi pokok di bagian atas, dan informasi yang tidak begitu penting di bagian bawah – hingga mu-dah untuk dibuang bila tulisan itu perlu diperpendek) se-ring ditinggalkan.

Jenis-jenis Feature

Feature kepribadian

Profil mengungkap manusia yang menarik. Misalnya, tentang seseorang yang secara dra-matik, melalui ber-bagai liku-liku, kemudian mencapai ka-rir yang istimewa dan sukses atau menjadi terkenal ka-rena kepribadian mereka yang penuh warna. Agar efektif, profil seperti ini harus lebih dari sekadar daftar pen-capaian dan tanggal tanggal penting dari kehidupan si individu. Profil harus bisa mengung-kap karakter manusia itu.

Untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, penulis feature tentang pribadi seperti ini seringkali harus meng-amati subyek mereka ketika bekerja; mengunjungi ru-mah mereka dan mewawancara teman-teman, kerabat dan kawan bisnis mereka. Profil yang komplit sebaiknya disertai kutipan-kutipan si subyek yang bisa menggam-barkan dengan pas karakternya. Profil yang baik juga bisa memberikan kesan pada pembacanya bahwa me-reka telah bertemu dan berbicara dengan sang tokoh.

Banyak sumber yang diwawancara mungkin mengungkap rahasia pribadi atau anekdot tentang si subyek. Tapi, banyak sumber lebih suka meminta agar identitasnya dirahasiakan. Informasi sumber-sumber itu penting untuk emberikan balans dalam penggambaran si tokoh.

Feature sejarah

Feature sejarah memperingati tanggal-tanggal dari pe-ristiwa penting, seperti proklamasi kemerdekaan, pem-boman Hiroshima atau pem-bunuhan jenderal-jenderal revolusi. Koran juga sering menerbitkan feature peri-ngatan 100 tahun lahir atau meninggalnya seorang tokoh.

Kisah feature sejarah juga bisa terikat pada peristiwa-peristiawa mutakhir yang memangkitkan minat dalam topik mereka. Jika musibah gunung api terjadi, koran sering memuat peristiwa serupa di masa lalu. Feature sejarah juga sering melukiskan landmark (monumen/gedung) terkenal, pionir, filosof, fasilitas hiburan dan me-dis, perubahan dalam komposisi rasial, pola perumahan, makanan, industri, agama dan kemakmuran.

Feature petualangan

Feature petualangan melukiskan pengalaman-pe-ngalaman istimewa dan mencengangkan mungkin pengalaman seseorang yang selamat dari sebuah ke-celakaan pesawat terbang, mendaki gunung, berlayar keliling dunia pengalaman ikut dalam peperangan.

Feature musiman

Reporter seringkali ditugasi untuk menulis feature tentang musim dan liburan, tentang Hari Raya, Natal, dan musim kemarau. Kisah seperti itu sangat sulit ditulis, karena agar tetap menarik, reporter harus menemukan angle atau sudut pandang yang segar.

Feature Interpretatif

Feature dari jenis ini mencoba memberikan deskripsi dan penjelasan lebih detil terhadap topik-topik yang telah diberitakan. Feature interpretatif bisa menyajikan sebu-ah organisasi, aktifitas, trend atau gagasan tertentu. Mi-salnya, setelah kisah berita menggambarkan aksi tero-risme, feature interpretatif mungkin mengkaji identitas, taktik dan tujuan terorisme. Berita memberikan gagasan bagi ribuan feature semacam ini. Setelah perampokan bank, feature interpretatif bisa saja menyajikan tentang latihan yang diberikan bank kepada pegawai untuk me-nangkal perampokan.

Feature kiat (how-to-do-it feature)

Feature ini berkisah kepada pembacanya bagaimana melakukan sesuatu hal: bagaimana membeli rumah, menemukan pekerjaan, bertanam di kebun, mereparasi mobil atau mempererat tali perkawinan. Kisah seperti ini seringkali lebih pendek ketimbang jenis feature lain dan lebih sulit dalam penulisannya. Re-porter yang belum berpengalaman akan cenderung men-ceramahi atau mendikte pembaca — memberikan opini mereka sendiri bukannya mewawancara sumber ahli dan memberikan advis detil dan faktual.

Tips Singkat Menulis Features

Menulis features seperti halnya menulis karya nonfiksi lainnya, seperti artikel, esai, laporan penelitian, dsb. Ia tetap ditulis dengan menggunakan data atau referensi. Namun, ia sangat berbeda dengan berita lempang (hard news) di surat kabar. Features cenderung dipaparkan secara hidup sebagai pengungkapan daya kreativitas, kadang-kadang dengan sentuhan subjektivitas si penulis terhadap peristiwa, situasi, dsb.

Dalam bukunya Features Writing for Newspaper (1975), DR Williamson berujar, features ialah tulisan kreatif yang terutama dirancang guna memberi informasi sambil menghibur tentang suatu kejadian situasi, atau aspek kehidupan seseorang. Dengan demikian, features bisa dianggap tulisan yang lebih ringan dibandingkan dengan berita atau artikel opini. Kekhasan features terletak pada empat point:

• Kreativitas (dalam hal menciptakannya),

• Informatif (dalam hal isinya),

• Menghibur (dalam hal gaya penulisannya), dan

• Boleh subjektif (dalam hal cara penuturannya).

Jenis-jenis Features dalam Surat Kabar

Features yang ditulis di surat kabar sangat beragam. Paling sedikit, ada tiga macam features, yakni (1) features berita (news features), (2) feature ilmu pengetahuan (science feature), dan (3) features minat manusia (human interest features).

Pertama, features berita biasanya muncul bersamaan dengan terjadinya suatu peristiwa. Dalam hal ini, news features lebih membicarakan kejadian dari peristiwa tersebut dengan disertai proses timbulnya kejadian itu.

Kedua, features ilmu pengetahuan biasanya dikemukakan dengan cukup berbobot. Ciri tulisan ini ditandai oleh kedalaman pembahasan dan objektivitas pandangan yang dikemukakan. Features jenis juga bisa kita baca di beberapa koran dan majalah, seperti Kompas, Tiara, Trubus, Intisari, Info Komputer, dsb.

Ketiga, features minat manusia yakni jenis features yang lebih banyak menuturkan situasi yang menimpa orang, dengan cara penyajian tulisan yang menyentuh hati dan menyentil perasaan.

Mengingat features itu pada dasarnya lebih mengandalkan pada tuturan kejadian, situasi, peristiwa, atau proses juga terjadinya suatu peristiwa, maka dalam menyajikan tulisan, features harus jelas dan juga logis (masuk akal). Selain itu, features janganlah bersifat menggurui dan sejenisnya. Diharapkan, penulisan features akan lebih menarik jika ia dibiarkan bercerita sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.

Menulis features pada intinya seperti menulis berita di surat kabar (baca hard news, ‘berita lempang’). Artinya, ia harus mengandung enam unsur berita, yakni (1) What, (2) Who, (3) When, (4) Where, (5) Why, dan (6) How. Rumusan ini biasa disingkat menjadi “5W 1H”. Sebelum kita menginjak ke tahap Penulisan, ada baiknya kita tahu tahap-tahap sebelumnya. Seorang wartawan/penulis yang baik, setidaknya mesti melakukan tahap-tahap sebagai berikut:

1. Menemukan peristiwa dan jalan cerita,

2. Cek, ricek, dan triple cek jalan cerita,

3. Memastikan sudut berita (point of view),

4. Menentukan lead atau intro/bagian pembuka, dan

5. Menulis berita.

Selain keterampilan memberikan laporan yang bersifat hardnews, seorang jurnalis sebaiknya memiliki kemampuan membuat feature. Jika dalam menyusun laporan yang sifatnya lugas, prinsip 5W 1H menonjol, maka dalam laporan bersifat feature kaidah itu tidak selalu pas.

Berita lebih menekankan kepada angle yang disesuaikan dengan kebijakan editorial, maka laporan yang bersifat feature lebih dalam lagi. Seorang wartawan yang menyusun sebuah feature biasanya memiliki pemahaman yang kuat terhadap kebijakan editorial sebuah surat kabar atau majalah atau media elektronik.

Berita kebakaran misalnya. Dengan mengandalkan prinsip 5W 1 H maka seorang jurnalis tinggal melihat mana angle yang tepat. Apakah dia akan mengangkat gedungnya yang terbakar karena museum? Atau apakah dia akan mengangkat soal korbannya karena dari satu rumah jompo semuanya meninggal dilalap api. Setiap jurnalis akan berbeda dalam mengangkat lead beritanya.

Feature berbeda dengan berita biasa. Di dalam penulisan feature faktor manusiawi lebih menonjol dibandingkan berita yang sifatnya lugas. Berita yang sudah terlambat tetapi layak diangkat lagi, misalnya tingkat pembunuhan di Jakarta, bisa menjadi feature menarik akhir pekan misalnya berdasarkan sedikit riset.

Untuk menulis feature ada beberapa hal penting.

1. Feature menekankan aspek penyajian yang menyentuh hati, bukan hanya informasi. Sebuah feature yang baik adalah laporan yang disusun berdasarkan konsep untuk memperkuat appeal terhadap pembaca. Nasib naas seorang pemulung yang meninggal ditabrak mobil mewah dimana ternyata dia meninggalkan keluarga dengan anak lima, misalnya, akan menyentuh pembaca untuk membantu keluarga yang ditinggalkannya. Sentuhan terhadap perasaan pembaca ini bisa dimulai dari kalimat pertama. Misalnya, canda dan tawa dua anak dari korban tabrakan itu seolah melupakan duka ayahnya yang tidak bisa ditemui lagi esok harinya. Sudut pandang penulis melihat nasib keluarganya ditambah data statisik mengenai jasa pemulung membersihkan kota Jakarta, contohnya, membuat feature itu akan menarik.

1. Sajikan fakta-fakta yang kuat. Anda tidak hanya harus membuat feature dengan menyentuh tetapi buatlah fakta dalam konteks yang kuat. Seorang pemulung yang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas bisa diangkat sebagai masalah ketidakberdayaan kaum papa di jalan. Berapa korban tabrakan di Jakarta per bulan atau per tahun ? Feature akan memiliki nilai tinggi, meskipun dirangkum dalam dua kalimat. Atau bisa pula berapa pemulung di Jakarta menurut taksiran. Angka-angka akan memperkuat bobot feature.

1. Selain menempatkan kasus dalam konteks lebih luas, feature juga sebaiknya penuh dengan warna. Percakapan, cerita dan penuturan yang mengalir merupakan kunci penting menuangkan sebuah karya jurnalistik dalam bentuk feature. Dalam kasus pemulung yang meninggal tadi, jika penulisnya turun ke jalan berbincang dengan keluarga dan kerabat serta rekan-rekannya, maka percakapan itu akan berarti banyak dalam mengekspresikan kesedihan mereka. Si pemulung yang meninggal misalnya seorang yang jujur dan sopan. Dia tidak pernah ceroboh di jalan. Beberapa kalimat dari lokasi kejadian akan meningkatkan kualitas feature.

1. Selain membuka dengan kalimat yang menyedot pembaca masuk ke dalam, jalinlah ceritanya untuk tetap mendorong pembacanya mengikuti sampai akhir. Dengan menuliskan feature mengikuti kaidah cerita maka pembaca dihadapkan pada sebuah kisah kehidupan yang nyata tetapi berwarna di dalamnya. Pembuka yang kuat ditambah dengan tubuh feature yang berwarna disertai penutup yang mengguncangkan pembacanya akan memberikan daya tarik tersendiri feature Anda. Tidak perlu seorang jurnalist menuangkan dengan kata-kata yang superlatif, cukup menulis fakta, menyampaikan ekspresi keluarga dan kerabat korban dan diakhiri dengan beratnya perjuangan hidup pemulung di tengah bahaya lalu lintas, akan menjadikan feature tersebut layak dibaca tuntas. (***)